Laman

Rabu, 30 Januari 2013

SILSILAH SULTAN DAN SULTANAH KERAJAAN SAMUDRA PASAI



Sultan Malik Al-Shalih ( ? – 1297 )

Menurut kronika atau hikayat Raja-Raja Pasai Sulthan inilah yang mendirikan kerajaan Samudra, pada batu nisannya yang terdapat di kecamatan Samudera, kabupaten Aceh Utara. Tertera tahun mangkat baginda yaitu 696 H atau 1297 M, baginda digantikan oleh puteranya yaitu :

Sultan Muhammad Malik Az-Zahir ( 1297 – 1326 ) 

Pada saat Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, kerajaan Samudra Pasai sudah memiliki uang emas yang dinamakan dengan “Dirham”. Mata uang tersebut dalam koleksi Jenderal G.E.C. Van Daalen


 

Depan              :  Muhammad Malik az-Zahir
Belakang         :  as-Sultan al-adil
Diameter         :  10 mm
Berat               :  0,58 gram
Mutu               :  18 karat
Rujukan           :  J. Hulshoff  Pol

Kemudian pada saat Sultan Muhammad Malik az-Zahir mangkat, ia digantikan oleh puteranya yaitu

Sultan Mahmud az-Zahir ( 1326 - ± 1345 )

Menurut hikayat Raja-Raja Pasai Sultan Mahmud ini diserang oleh kerajan Siam, karena tidak mau memenuhi permintaan Siam untuk memberikan upeti. Serangan tersebut dapat digagalkannya, dan baginda membuang adiknya Sultan Malik al-Mansur ke Tamiang, karena al-Mansur mengambil wanita dari istananya ketika Mahmud ke luar Pasai. Sultan Mahmud digantikan oleh adiknya sendiri

Sultan Mansur Malik az-Zahir ( 1326 - ? )

Menurut hikayat baginda adalah cucu dari Sultan Malik al-Shalih, sedangkan menurut Sejarah Melayu baginda ini adalah anak dari Muhammad Malik az-Zahir. J. P. Moquette berpendapat bahwa genealogie yang terdapat dalam Sejarah Melayu lebih dapat dipercaya, oleh karena didukung oleh epigrafi yang terdapat pada makam yang terindah di Pasai yaitu makam Sultanah Nahrisyah ( sekarang makamnya sudah terlihat suram ). Meski pun ada perbedaan antara tradisi tersebut diatas, namun Sultan Mansur ini memang memerintah di Samudra Pasai berdasarkan Derham yang terdapat dalam koleksi H. Scheffer. Tidak tertutup kemungkinan bahwa Sultan Mansur ini adalah Sultan yang memerintah Samudra Pasai kemudian, yaitu pada abad XV dan XVI. Menurut hikayat Sultan Mansur mangkat ketika perjalanan pulang ke Pasai dari Tamiang, tempat ia dibuang oleh kakandanya Sultan Malik al-Mahmud.
Tgk. Abdullah Syafi’i, seorang ulama di Aceh Utara berpendapat bahwa mungkin makam Tgk. Batee Badan di kecamatan Jambo Aye, Aceh Utara adalah makam Sultan Mansur ini.

Sultan Ahmad az-Zahir ( 1346 – 1383 )

Dalam masa pemerintahan Sultan ini, kerajaan Majapahit menyerang Pasai yakni sekitar tahun 1361 M. menurut hikayat Raja-Raja Pasai, kerajaan Pasai kalah dan Sultan Ahmad melarikan diri, banyak orang pasai ditawan dan dibawa ke pulau Jawa. Oleh Raja Majapahit mereka diperbolehkan tinggal dimana mereka suka. Dalam hikayat Raja-Raja Pasai disebutkan sebagai berikut :
“Maka titah sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk ditanah Jawa ini, mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya maka banyak keramat ditanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu.”

Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir ( 1383 – 1405 )

Sultan ini dalam berita Tiongkok disebut Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki. Ia tewas dipanah oleh Raja Nakur, dan Raja Nakur ini adalah raja negeri Pedir ( Pidie sekarang ). Permaisuri Zain al-Abidin menyerukan bahwa barang siapa yang dapat membunuh raja Nakur akan dijadikan suaminya dan akan memerintah bersama putranya. Seorang nelayan berhasil membunuh raja Nakur itu dan ia pun diangkat menjadi raja dan ia-lah yang diberi gelar Sultan Sallah ad-Din.

Sultanah Nahrasyiah ( 1405 – 1412 )

Sultanah ini janda Sultan Zain al-Abidin, baginda mangkat pada hari senin 17 Zulhijjah 831 H atau 27 September 1428 M. Makamnya terbuat dari batu pualam dan merupakan makam yang terindah pahatannya di pulau Sumatera. Makam sunan Gresik di Jawa Timur menyerupai makam Sultanah ini. C. Snouk Hurgronje berpendapat bahwa Sultanah ini bernama Bahiyah.

Sultan Sallah ad-Din  ( 1405 – 1412 )

Seperti yang sudah disinggung diatas Sultan ini berasal dari nelayan. Mungkin berita dari Tiongkok itu benar, mengingat bahwa pada derham Sultan ini tidak tertera gelar Malik az-Zahir. Ketika kembali dari negeri Cina, Sultan Sallah ad-Din ini dibunuh oleh anak tirinya Abu Malik az-Zahir pada tahun 1412.

Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir ( 1412 - ? )

Bertia Tiongkok menyebutnya A-pu-sai, Sultan ini mengirimkan adiknya ke Cina untuk minta pengesahan dari kaisar Tiongkok terhadap kedudukannya sebagai raja. Tidak di ketahui kapan baginda wafat, karena sumber dan bacaan-bacaan tentang sisilah raja-raja Pasai banyak yang hilang.

Oleh : T. Iberahim Alfian

Tidak ada komentar: